Romantisme di Antara Sunset Akkarena

Wednesday, 7 May 2008


Keindahan sunset selalu memberi ruang penyegaran bagi setiap orang. Tak salah, jika pasangan muda-mudi hingga mereka yang telah uzur menjadikan matahari terbenam di Pantai Akkarena, Tanjung Bunga, Makassar, sebagai ajang romantisme.

Petang itu, cuaca sangat bersahabat. Aroma laut cukup menusuk hidung. Desir ombak menderu dan menggulung hingga di bibir pantai. Ratusan manusia terhampar di pantai tersebut. Mereka larut dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang duduk secara bergerombol sembari meneguk kopi hangat, ada yang bermain kejar-kejaran dengan ombak, hingga beberapa pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Begitulah sepenggal gambaran Pantai Akkarena yang berada di wilayah selatan Kota Anging Mammiri. Anda mungkin salah seorang pengunjung yang sering menikmati indahnya pantai Akkarena dan tidak melupakan pemandangan matahari tenggelam dari ujung sebuah dermaga yang menjadi landmark Pantai Akkarena.
Ya, Akkarena merupakan salah satu tempat tongkrongan bagi warga Makassar. Selain sebagai area wisata yang tepat berada di pesisir pantai barat Selat Makassar, Akkarena juga merupakan ruang bercengkerama bagi masyarakat Sulawesi Selatan, dengan luas pengembangan sampai 10 hektar yang ‘menjual’ keindahan panorama pantai serta keindahan matahari terbenam.
Akkarena adalah salah satu fasilitas Kawasan Tanjung Bunga yang dibangun berdasarkan konsep kota mandiri, yang dijabarkan ke dalam empat zona pengembangan, yaitu pariwisata, ekonomi, niaga, permukiman dan olahraga. Ini dimaksudkan menciptakan suasana Tanjung Bunga yang apik, serasi dan tertata rapih serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Memanfaatkan potensi alam yang terdapat di Tanjung Bunga seperti Sungai Jeneberang, Danau Tanjung Bunga serta Pantai Akkarena, developer kawasan ini, yaitu konsorsium PT. Gowa – Makassar Tourism Development (GMTD) memang sejak awal berkeinginan mengembangkan wisata bahari. Nah, selain Pantai Akkarena, di kawasan ini juga akan dibangun industri pariwisata lainnya seperti wisata air, wisata religius, dan wisata budaya dengan segmen pasar keluarga dan anak-anak.
Sejak bulan Juni tahun 1998, Akkarena beroperasi berupa Taman Hidangan (food court) seluas 450 m2 dengan gaya bangunan mediterania. Terletak di tepi pantai dengan sajian aneka menu makanan dan minuman lokal maupun internasional.
Dalam perkembangan selanjutnya, taman ini berkembang menjadi pusat rekreasi keluarga Akkarena yang menawarkan berbagai sarana untuk bersantai, bermain dan berolahraga bagi seluruh keluarga. Juga telah dilengkapi dengan dermaga yang memiliki panjang 150 m dengan lebar 5 m. Dermaga tersebut selain digunakan untuk menikmati keindahan matahari terbenam dan keindahan selat Makassar, juga digunakan untuk pendaratan kapal-kapal wisata berukuran kecil dan sedang.
Pantai Akkarena dibuka mulai jam 7 pagi sampai jam 10 malam, pada hari kerja. Khusus hari Sabtu dan hari libur, Akkarena dibuka mulai jam 6 pagi sampai jam 12 malam.
Beberapa sarana dan prasarana yang disediakan manajemen GMTD selaku pengelola yakni plaza oval, menara air, taman bermain anak-anak, restoran, pusat permandian, meeting room, poliklinik, fasilitas wisata air, serta olahraga bola voli pantai.
Untuk wisata air dan water sport, pengelola menawarkan fasilitas seperti jet ski, banana boat, speed boat, dan mini boat. Namun menggunakan fasilitas itu untuk ‘berkeliling’ pesisir pantai, konsumen harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah.
Bagi mereka yang hanya ingin hang out, pengelola Akkarena menyediakan fasilitas untuk kegiatan outbond dan meeting dengan paket menu makanan yang bervariasi. Untuk kegiatan outbond, disediakan makanan prasmanan seharga 25 hingga 40 ribu rupiah per orang. Sedangkan nasi dos senilai 15 ribu rupiah perbungkus.
Ovy adalah salah satu pengunjung yang sering hang out di pantai Akkarena karena lokasinya yang mudah ditempuh dan suasananya sangat mendukung. ”Akkarena adalah tempat perkumpulan anak muda hingga orang dewasa. Banyak pengunjung memilih tempat ini sebagai ruang untuk bercerita sembari menikmati sunset,” kata mahasiswa salah satu sekolah tinggi manajemen informatika di Makassar ini saat bertemu EXPOSE di Pantai Akkarena beberapa waktu lalu.
Hal lain yang mendukung tempat ini sebagai tempat kongkow, kata Ovy, adalah letaknya yang dekat dengan kawasan bisnis dan perkantoran, serta convention and exhibition centre. Ini diamini pula oleh Kahar, karyawan salah satu event organizer di Makassar, yang juga senang kongkow di Akkarena.
Menurut Kahar, pantai Akkarena telah dikelola secara profesional hingga membuat masyarakat merasa betah untuk bercerita sekaligus melepas penat setelah seharian bergelut dengan tugas kantor.
Selain itu, kata Kahar, Akkarena juga dikelilingi tempat yang layak dijadikan zona pengembangan olahraga untuk mendukung program pemerintah daerah dalam pengembangan bidang olahraga. “Salah satunya adalah danau Tanjung Bunga yang saat ini telah dikembangkan sebagai venues dayung dan telah memenuhi standar internasional dari FISA (Federation Internationale des Sicietes d’Aviron), baik untuk penyelenggaraan event olahraga dayung nasional dan internasional maupun sebagai regatta coars,” urainya.


Mabuk Hingga Mobil Goyang?

Awalnya Tanjung Bunga adalah kawasan kumuh yang di sekitarnya banyak gubuk liar. Pantai di tanjung tersebut sangat jorok akibat sampah yang dibuang begitu saja. Hampir setiap sore hingga malam anak-anak muda di sekitar tanjung dan dari berbagai sudut kota Makassar menjadikan tempat tersebut sebagai tempat yang ’tidak semestinya’.
Konon, mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat mabuk-mabukan saat perayaan moment tertentu. Bahkan, di tempat ini sering pula ditemukan mobil bergoyang padahal sedang parkir.
Tapi, itu dulu. Saat ini, Tanjung Bunga khususnya pantai Akkarena sudah menjadi salah satu obyek wisata pantai yang cukup digemari oleh masyarakat Makassar. Manajemen GMTD selaku pengelola Pantai Akkarena menyulap tempat tersebut menjadi salah satu kawasan wisata yang cukup bonafid, meski awalnya harus kerja keras menghadapi perlawanan dari masyarakat sekitar yang tidak setuju.
Saat dibuka pertama kali sekitar sembilan tahun lalu, pengelola tidak memungut biaya untuk masuk ke Pantai Akkarena. Namun untuk peningkatan pelayanan dan biaya maintenance, pengelola mulai mengenakan biaya masuk mulai tahun 1998 lalu.
Setelah ada pemberlakuan karcis tanda masuk, pengunjung mulai terseleksi. Hanya pengunjung yang membutuhkan privasi yang sering berkunjung. Dengan demikian, pantai Akkarena menjadi tempat wisata bagi keluarga sekaligus tempat hang out yang nyaman sekaligus aman.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.