Golkar Terpuruk di Bantaeng

Wednesday, 2 July 2008


MAKASSAR(SINDO) – Hasil quick countLSI menempatkan pasangan Nurdin Abdullah- Asli Mustadjab sebagai pemenang Pilkada Bantaeng dengan 46% suara. Kemenangan paket yang menggunakan tagline Nurani itu, sekaligus mengurangi dominasi Partai Golkar dalam perebutan kursi bupati dan wakil bupati di Sulsel.

Sebab calon usungan Partai Golkar,Arfandy Idris- Irvandy Langgara hanya berada di posisi buncit dengan meraih 14,96%. Berdasarkan catatan SINDO,kekalahan Golkar di Bantaeng merupakan kegagalan yang ketujuh kalinya dalam pilkada di Sulsel,termasuk pemilihan gubernur.

Dari 15 pilkada kabupaten dan kota,partai berlambang pohon beringin itu hanya menang di Luwu Timur,Gowa,Maros,Pangkep,Barru, Takalar,Sinjai,Bone,dan Palopo. Sedang tujuh pilkada yang gagal direbut Golkar yakni pemilihan gubernur, Pilkada Luwu Utara (PDK,PDIP dan PKS), Tana Toraja (PKPI), Bulukumba (PDIP-PBB),Soppeng (PBR), Selayar (PPP, PKB, dan PBB), dan Pilkada Bantaeng (koalisi 9 parpol).

Koordinator Lembaga Survei Indonesia (LSI) Area Sulawesi Herman Heizer saat konferensi pers di Hotel Clarion, kemarin menyatakan, kegagalan kandidat yang diusung Partai Golkar di Pilkada Bantaeng, lebih disebabkan karena terjadinya distribusi pemilih Partai Golkar ke kandidat lain.

”Tapi itu tidak saja terjadi pada pemilih Golkar saja, melainkan juga terjadi di partai lain, seperti PAN.Jadi,pemilih Golkar dan PAN saat pemilu legislatif lalu,dalam pilkada justru memilih Nurdin Abdullah,” kata Herman. Menurut Herman, fenomena itu membuktikan bahwa partai atau mesin politik gagal meyakinkan pemilihnya untuk memilih kandidatnya dalam pilkada.

Sebaliknya, Nurdin Abdullah yang diusung oleh sembilan partai politik, masing-masing PKS, PBB,PKB,PPNUI,PNBK,Patriot,PIB, PSI, dan Partai Merdeka, sukses menarik simpati dari pemilih partai lain. Berdasarkan hasil quick count (perhitungan cepat) yang dirilis LSI, Nurdin menang telak atas tiga rival politiknya.

Padahal,persentase suara parpol yang dimiliki Direktur PT Maruki Internasional Indonesia itu hanyalah 18%. Di posisi kedua ditempati pasangan yang diusung PAN-PDIP, Syahlan Solthan-Samhi Muawan Djamal dengan persentase 19,70%.

Sementara dua pasangan lainnya yakni Ibrahim Solthan-Sugiarti Mangun Karim (IBU) memperoleh 19,33%, dan pasangan Arfandy Idris-Irvandy Langgara (MaiQi) hanya meraih 14,96%. Herman Heizer menyatakan,quick countmengambil sampel 200 TPS dari 316 TPS yang tersebar di delapan kecamatan di Bantaeng. Hasil quick count tersebut memiliki tingkat kesalahan (margin of error) sebesar 1–2% dengan tingkat kepercayaan mencapai 99%.

”Jumlah sample yang masuk ke LSI hingga sore kemarin hanya 199 TPS.Sebab,satu TPS masih dalam proses perhitungan suara. Perolehan suara kandidat dari hasil quick count ini bisa bergeser ke atas atau ke bawah sebesar 1–2%. Dengan demikian, posisi pasangan Syawal dan IBU dapat diketahui di tingkat KPUD,”katanya.

Herman menyebut, dari delapan kecamatan di Bantaeng, Nurdin menang di tujuh kecamatan. Perolehan suara Nurdin tertinggi berada di Kecamatan Gantarang Keke dengan persentase mencapai 52,65%, disusul Kecamatan Pajukukang sebanyak 52,03% dan Bisappu yang memperoleh 51,51%.

”Paket Nurani hanya kalah di Kecamatan Uluere,” kata Herman. Tak jauh beda dengan LSI, Script InterMedia-Insert Institute yang kemarin, juga menggelar quick count menempatkan Nurani sebagai pemenang. Hasil akhir quick countini,Nurani memperoleh 45,39%,Syawal 19,23%,IBU 210,31% dan Mai-Qi 15,07%.

Hasil penghitungan cepat yang dilansir kedua lembaga survei itu, langsung mendapat respons dari pendukung Nurani di Bantaeng. Bahkan,para pendukung Nurani, sejak sore kemarin,langsung turun ke jalan sambil menggelar pawai kemenangan. Ratusan kendaraan roda dua memenuhi jalan-jalan protokol di Bantaeng. Para simpatisan Nurani ini start di kediaman Nurdin Abdullah, Jalan Sultan Hasanuddin terus menuju Jalan Pahlawan, kemudian melintasi Jalan Lanto Raya dan kembali ke rumah Nurdin.

Desakan Musdalub

Sementara itu, kekalahan kandidat yang diusung Partai Golkar di Bantaeng,langsung mengundang reaksi anggota Dewan Penasihat (Wanhat) DPD I Partai Golkar Sulsel, Anthon Obey dan Opu Sidik.

Menurut Anthon, kekalahan Golkar di beberapa pilkada di Sulsel,dan terakhir di Pilkada Bantaeng, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi citra partai ini di pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009.

”Itu membuktikan pimpinan Partai Golkar tidak mampu melakukan konsolidasi kader dan organisasi pasca Pilkada Sulsel. Bahkan, pernyataan yang sering disampaikan oleh Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel HM Amin Syam,kontraproduktif dengan kinerja partai,” kata Anthon, sembari mengutip pernyataan Amin yang antara lain menyebut kader pengkhianat.

Menurut Anthon, sikap pimpinan DPD I Partai Golkar Sulsel itu cenderung berdampak terjadinya kecurigaan dan perpecahan sesama kader.”Sekali lagi,ini sebagai bukti bahwa pimpinan partai tidak memiliki kemampuan memagnet organisasi dengan baik atas segala potensi yang dimiliki partai,”katanya.

Anthon juga menilai, pemimpin partai tidak konsisten dengan proses kaderisasi. Termasuk saat menentukan calon wakil gubernur di Pilkada Sulsel 2007, di mana seharusnya calon dari kader Golkar. Selain itu, Anthon juga mengkritisi penyusunan pengurus Bappilu Golkar Sulsel dan kebijakan menyusun peserta orientasi fungsionaris Golkar yang harus dilakukan secara transparansi, demokrasi dan akuntabilitas dalam mewujudkan Partai Golkar sebagai partai modern.

”Kenyataannya,anak,menantu, istri, ipar semua ikut kegiatan fungsionaris. Memang sudah tidak ada kader lain lebih baik dan berkualitas? Apalagi yang bisa diharapkan dari pemimpin partai demikian.Perlu segera upaya penyelamatan partai,” kata Anthon. Sikap yang sama juga dilontarkan Opu Sidik. Ia malah mengusulkan bahwa pasca Pilkada Bantaeng, harus segera dilakukan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) guna menyelamatkan Golkar.

Sekadar diketahui,desakan Musdalub ini sudah dihembuskan Wanhat Golkar sejak partai kalah di Pilgub Sulsel. Alasannya, mesin partai tidak lagi bisa efektif menyusul kekalahan beruntun Golkar di beberapa pilkada di Sulsel. Di kalangan internal Golkar menguat tiga alasan perlunya segera digelar Musdalub.

Pertama, Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel HM Amin Syam yang bertarung dalam pemilihan gubernur yang kedua kalinya, gagal memenangkan pilkada. Kedua, Bendahara DPD I Partai Golkar Sulsel Hamka Yandhu saat ini tersandung kasus dugaan korupsi dan saat ini masih menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketiga, Sekretaris DPD I Arfandy Idris juga gagal di Bantaeng.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.