Mengunjungi Museum Kota Makassar

Friday, 14 August 2009


Dipoles Saat Berusia 93 Tahun

Bagi anda yang mencari identitas dan sejarah Kota Anging Mammiri, untuk sementara waktu tak bisa menyambangi gedung Museum Kota Makassar. Bangunan peninggalan Belanda ini tertutup untuk umum lantaran mendapat ’polesan total’ diusia 90 tahun.

Jejeran balok kayu dan tangga menjulang naik pada sebuah bangunan di Jalan Balai Kota No 11 A. Para kuli bangunan sibuk mengecat dinding, kusen, dan jendela bangunan yang memiliki desain Eropa tersebut.

Pada bagian kiri di halaman depan, ada begitu banyak tumpukan genteng. Dari balik dinding bangunan, lamat-lamat terdengar riuh suara para kuli bangunan. Ada yang membongkar kusen yang dianggap lapuk dan menggantinya dengan bahan yang baru. Begitulah aktivitas di gedung yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda sejak 1916 tersebut.

Inilah renovasi secara besar-besaran yang resmi dikerjakan pada tiga bulan lalu dengan mendapat bantuan anggaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar. Anggaran tersebut dialokasikan pada era kepimpinan A Herry Iskandar sebagai Wali Kota Makassar.
Bentuk kerusakan bangunan yang dianggap sangat parah yakni pada bagian atap, kerusakan pada kayu kusen, dinding, dan lumut pada dinding.



”Perbaikan ini merupakan reonvasi yang secara besar-besaran dilakukan sejak berdirinya bangunan itu, tepatnya 1916 lalu. Saya tidak tahu kapan terakhir di renovasi. Tapi, yang jelas renovasi ini bersifat total," jelas Kepala BP3 Makassar, Andi Muhammad Said.

Kepala Museum Kota Makassar Andi Ima Kusuma juga tak tahu renovasi yang terakhir kalinya sebelum dilakukan renovasi secara total. ”Sejak bangunan itu dijadikan sebagai Museum Kota tepatnya tahun 2002, sampai 2008 memang belum pernah diperbaiki. Wajar saja kalau kondisi bangunannya sudah lapuk,” ujarnya.

Dalam proses renovasi, pihak BP3 Makassar melibatkan sejumlah para ahli yang bergerak dalam pelestarian dan mekanisme penanganan dengan mengidentifikasi bangunan yang perlu dilestarikan berdasarkan tingkat kerusakan dan berdasarkan data yang ada.
”Sesuai hasil kesepakatan, proses renovasi total ini dibagi dua. Ada dari pihak kami dan pemkot. Dari BP3 khusus memperbaiki pada bagian depan dengan menggunakan dana pemeliharaan sedangkan selebihnya dikerjakan oleh Pemkot Makassar,” papar Muhammad Said.

Selain itu, penanganan pelestarian dan pemanfaatan harus memperhatikan lingkungan sekitarnya serta pemakaian bahan yang mirip bentuk dan warnanya.
”Kami sudah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat dalam melakukan renovasi. Dalam proses penggantian material yang asli, memang sangat susah ditemukan. Untuk itu, kami menggantinya dengan bahan yang bentuk dan warnanya yang sama dengan yang asli,” jelasnya.

Sejauh ini, koleksi yang dimiliki Museum Kota Makassar diantaranya adalah peta bumi yang dibuat untuk kelancaran misi perdagangan dan politik di Indonesia pada masa silam. Peta merupakan sumber informasi yang berharga dari suatu daerah pada suatu masa. Sebab, dahulu Bangsa Eropa membuat peta berbagai daerah, khususnya yang dipandang penting dan strategis.

Koleksi lain dari museum ini adalah piano tua, relief potret Ratu Wilhelmina dan Yuliana, foto reproduksi naskah, foto-foto peristiwa serta bangunan bersejarah, peralatan sehari-hari dan mata uang. Namun, untuk sementara koleksi itu sedang ’diungsikan’ ke ruangan lain di dalam bangunan Museum.

Renovasi Bangunan Sesuai Aslinya

Renovasi bangunan Museum Kota tak hanya pada penggantian material yang sudah uzur.Di bawah kendali A Ima Kusuma sebagai sang pengelola, Museum Kota akan dikembalikan ke wajah yang asli.

SUARA bising alat pertukangan menggaung dengan jelas dari dalam bangunan. Ada suara ketam elektrik juga bunyi palu yang diselingi canda tawa kuli bangunan pada bangunan berlantai dua itu. Di ruang utama, masih tampak sebuah piano hitam.

Alat musik yang konon digunakan para kolonial Belanda itu diselimuti debu dan dikelilingi balok kayu dan sejumlah cat dinding. Para kuli bangunan tak peduli. Masing-masing sibuk naik dan turun tangga dengan kerjaannya. Piano tersebut merupakan satusatunya koleksi Museum Kota yang masih berdiri kokoh dalam kegiatan renovasi. Koleksi yang lain diungsikan ke ruangan steril.

”Hanya piano itu yang memang belum dipindahkan. Selain berat, semua ruangan di lantai 1 turut direnovasi. Namun,piano itu tetap akan kami jaga sebagai salah satu koleksi peninggalan kolonial Belanda,” tutur Kepala Museum Kota Makassar Andi Ima Kusuma. Bangunan Museum Kota Makassar bergaya arsitektur Eropa abad 17, bangunannya berlantai dua, pintu dan jendela berbentuk kubah, kemudian pada atapnya terdapat ventilasi.

Renovasi besar-besaran yang dilakukan pada tahun ini, ternyata sangat beruntung.Sejumlah jendela yang sudah ada sejak 1916 tersebut kembali ditemukan. Jendela yang dimaksud berada di lantai 2. ”Ada banyak yang ditemukan.Utamanya jendela yang selama ini ditutup dan tak berfungsi. Tentu hal tersebut sangat sesuai perencanaan kami, yakni mengembalikan ke wajah yang semula,”jelasnya.

Tetapi, pengembalian ke bentuk asli bangunan tersebut tidak total. Sebab, masih ada satu pintu yang saat ini tak bisa terbuka dan sangat sulit membukanya. Pintu yang terbuat dari kayu tersebut berada di lantai 1, tepatnya di sisi bagian kiri ruangan utama. Pintu itu tertutup dengan rapat dengan model kunci yang tak ditemukan atau beredar di Indonesia. Konon, pintu itu merupakan jalur khusus yang digunakan para kolonial Belanda dalam menjajah bangsa Indonesia yang berada di Makassar dan sekitarnya.

Jalur khusus yang dimaksud, konon merupakan jalur tembus yang menghubungkan ke Benteng Fort Rotterdam yang jaraknya sekitar 500 meter. Sayang, cerita tersebut belum dapat dibuktikan para sejarawan di Makassar lantaran pintu tersebut masih tertutup rapat dan sulit dibuka. ”Hanya pintu itu yang tak bisa kami buka,sedangkan yang lainnya akan dikembalikan ke konsep semula, yakni pada 1916,”paparnya.

Renovasi dijadwalkan rampung pada September mendatang.Dengan demikian,Museum Kota Makassar dapat berfungsi dengan wajah aslinya pada bulan tersebut. Dia menyebutkan, salah satu konsep yang berubah, yaitu meletakkan piano peninggalan Belanda pada sebuah panggung mini. ”Posisinya tidak seperti dulu lagi.Kami akan menggunakan traft agar posisinya lebih tinggi,”ungkap perempuan ini yang juga dosen di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Koleksi yang saat ini diungsikan pun kembali akan ditata ulang.Adapun koleksi yang dimiliki Museum Kota Makassar, yakni mata uang dari masa VOC,mata uang Belanda, mata uang Kerajaan Gowa, serta mata uang bergambar Ratu Wilhelmina lengkap dengan patungnya. Selain benda-benda arkeologi dengan berbagai motif, Museum Kota juga memiliki perjanjian Bungaya dan peta Benteng Somba Opu.

Koleksi lainnya adalah keramik China dari masa Dinasti Ming abad ke 14–17 dan keramik Jepang. Untuk koleksi foto seperti mantan wali kota, foto tentang bangunan bersejarah Kota Makassar,baik yang dapat dipertahankan keadaannya maupun yang telah musnah, seperti bank pertama yang ada di Makassar dan foto tentang pelayaran orang Makassar ke Australia mencari teripang pada 1881 hingga 1907.

”Kalau renovasinya sudah rampung, kami akan menata kembali koleksi tersebut,” tandas Andi Ima Kusuma.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.