Keranjang Parsel Diantara KPK

Monday, 7 September 2009


Menjelang Lebaran,denyut bisnis di Jalan Rajawali Makassar kembali menggeliat.Keranjang parsel yang sudah menjadi ikon di jalan tersebut,kian meluber hingga ke garis sempadan jalan.


SEBUAH rumah bernomor 102 di Kecamatan Mariso,dipadati ratusan keranjang parsel.Ruangan berukuran 3x8 meter yang dulunya ruang tamu, disulap menjadi gudang parsel. Pun kerajinan tangan yang terbuat dari rotan itu tertumpuk hingga setinggi 1 meter.

Di teras rumah tersebut, seorang perempuan dewasa asyik duduk di sebuah kursi plastik.Terik matahari yang kian menyingsing di ufuk barat membuatnya beranjak perlahan-lahan mencari lokasi yang teduh. Ya, dialah salah satu penjual keranjang parsel di sepanjang Jalan Rajawali. Namanya H Haryani,yang menanti rezeki pada bulan Ramadan. Tak berselang lama, sebuah mobil Avanza hitam menepi di depan rumahnya. Rupanya seorang perempuan berkulit putih dengan busana rada seksi.

Perempuan itu pun langsung turun dan melihat jajanan keranjang.Tawar menawar pun dimulai. Hasilnya, perempuan seksi itu membeli sekitar lima keranjang parsel dan langsung bergegas menancap gas mobilnya.“Ya,lumayan pembelinya hari ini,” tutur perempuan yang akrab disapa Ani ini kepada Seputar Indonesia(SI). Ada berbagai macam model keranjang parsel yang disajikan di rumah yang memiliki dua lantai tersebut.

Di antaranya berbentuk segitiga dan menyerupai binatang kodok. Namun, model keranjang parsel pastinya tidak mengalami perubahan desain dari tahun ke tahun. Kecuali harga yang setiap tahunnya meningkat, meski tak signifikan. “Modelnya itu-itu saja kok. Yang pasti, pelanggan maunya keranjang yang barangnya enak diatur. Harganya dimulai Rp10.000 hingga Rp35.000.Tergantung modelnya,” paparnya. Baginya, jumlah tumpukan keranjang yang meluber hingga ke garis sempadan jalan belumlah seberapa untuk saat ini.

Sebab, puncak orderan diperkirakan terjadi pada H-10 pada perayaan Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Perempuan beranak satu ini telah menggeluti dunia bisnis keranjang parsel sejak 10 tahun lalu.Konon, di sepanjang jalan kediaman H Haryani tersebut dikenal sebagai pusat jajanan keranjang parsel pertama di Kota Makassar. Kerajinan tangan ini pun membuat Ani menciptakan pekerjaan baru kepada para perajin rotan.Saat ini dia memiliki lima perajin, meski hanya membuat keranjang parsel adalah bisnis musiman.

“Saya menggunakan kreativitas mereka. Tapi,maaf,ini hanya sekali setahun,” ucap Ani ketika mengajak para perajin rotan membuat keranjang parsel. Meski sekali setahun, bisnis keranjang parsel sangat menjanjikan. Tidak hanya Lebaran,tapi tempat yang berisi berbagai macam jenis makanan dan minuman tersebut laris hingga pada perayaan Natal. Deal pun tercipta.Ajakan kerja sama tersebut tak membuat para perajin rotan berani menolak.

Selain usaha rotan dari tahun ke tahun tak berkembang, para perajin itu juga tak perlu mengeluarkan modal untuk membeli bahan rotan. “Mereka cukup bekerja di rumahnya masing-masing dan saya yang menyiapkan bahannya,” jelas perempuan berjilbab ini. Dia memaparkan, bahan rotan yang digunakan saat ini dalam membuat keranjang parsel cukuplah sulit didapatkan di Kota Makassar. Saking langkanya, harga rotan kian mencekik dalam usaha terse-but.

“Saat ini hanya didapatkan di Kawasan Industri Makassar. Saya biasanya beli per ton. Itu pun tergantung jumlah pesanan yang saya terima. Per kilo dijual Rp9.500,”paparnya.

Tergerus Ditengah Larangan KPK

Tiga tahun terakhir,penjual keranjang parsel di sepanjang Jalan Rajawali kian berkurang.Bisa jadi, pusat jajanan keranjang parsel itu akan punah akibat larangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


JUM’AT sore, (5/8), sebuah mobil Toyota berwarna hitam menepi di jejeran puluhan keranjang parsel di Jalan Rajawali.Di dalam kendaraan itu, ada sekitar tiga orang. Seorang perempuan dengan potongan rambut sebahu lalu turun dan menyambangi jajanan keranjang parsel.

Transaksi pun dimulai dengan penjual keranjang parsel H Haryani. Harga sepakat,tiga keranjang parsel langsung diangkut ke dalam kendaraan. Mobil itu pun lalu melesat meninggalkan Jalan Rajawali. Uang pecahan Rp50.000 dari hasil pembelian keranjang parsel yang berada di jemari H Haryani lalu dimasukkan ke sebuah kantung celananya dan kembali mengambil kursi plastik untuk menunggu pembeli selanjutnya. Wajahnya lalu kembali menyaksikan tumpukan keranjang parsel setinggi 1 meter di sebuah ruangan tamu yang disulap menjadi gudang.

Tumpukan itu tak kunjung terjual secara laris manis. Dia mengaku, jumlah pembeli saat ini bisa dihitung jari. Hal tersebut terjadi sejak dua tahun lalu seiring dengan larangan KPK tentang pemberian parsel kepada pejabat. Perempuan yang akrab disapa Ani ini mengisahkan, sebelum adanya larangan tersebut, jumlah permintaan terbilang cukup besar. Sejumlah perusahaan besar memesan hingga mencapai ratusan keranjang dan dikirim ke Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah hingga ke Timika Provinsi Papua.

”Jumlah pemesan kala itu sangat besar. Rata-rata yang membeli dari perusahaan.Tapi, sekarang tinggal toko saja yang membeli dengan jumlah yang kecil sejak larangan KPK itu,”papar ibu dari satu anak ini. Diketahui, KPK mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan bingkisan atau pemberian lainnya kepada penyelenggara negara atau pegawai negeri, atau ucapan selamat kepada penyelenggara negara dalam bentuk iklan di media massa dan elektronik terkait dengan tugas atau pekerjaan atau jabatannya.

Dana-dana untuk hal-hal tersebut sebaiknya disalurkan kepada pihak-pihak yang lebih membutuhkan bantuan, baik dalam bentuk kebutuhan pokok ataupun kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan, sebagai bentuk kesetiakawanan sosial.Larangan untuk menerima parsel tersebut sesuai dengan Undang-Undang (UU) No 30/2002 tentang KPK dan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

”Pada saat larangan itu muncul, para penjual keranjang parsel disini pada heboh. Sebab, larangan itu sangat berdampak pada kami yang selama ini menjual keranjang parsel. Pokoknya, saat ini sudah merosot,” keluhnya. Di tengah merosotnya pemesan keranjang parsel,Ani pun mulai menambah tambahan bisnis dengan membuat keranjang erang-erang (tempat sejumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan pernikahan).

Selain itu, ia pun harus berjualan bahan bangunan untuk membuat asap dapurnya terus menyala. Maklum,keranjang parsel sudah dianggap sebagai dagangan musiman pada hari raya Lebaran dan Natal. ”Mau kerja apalagi. Tidak ada bisnis lain. Dan alhamdulillah, masih bisa untung sedikit,”tandas Ani.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.