Lebih Dekat dengan Kaskuser Makassar

Sunday, 7 November 2010


2 Oktober 2010, Kaskus Regional Makassar tepat berumur 4 tahun. Diumur yang masih belia tersebut, forum komunitas tersebut mencoba eksis ditengah terpaan trend situs facebook dan twitter.

Kaskus merupakan situs forum komunitas maya. Kaskus merupakan singkatan dari Kasak Kusuk. Di Makassar, komunitas ini resmi berdiri pada tahun 2006. Situs ini merupakan ruang berbagi informasi dan memperluas pertemanan di dunia maya.

Interaksi pertemanan yang memiliki persamaan hobi, melalui situs komunitas ini akan melahirkan persaudaraan. “Inilah yang membedakan Kaskus dengan facebook. Di Kaskus kita memiliki teman baru sedangkan facebook kerap dikenal untuk bertemu dengan teman lama,” tutur Kepala Regional Kaskus Makassar, Irwansyah.

Interaksi antar sesama kaskuser tak hanya sebatas di dunia maya.Mereka melangsungkan jalinan pertemanan ke dunia nyata dan melahirkan kegiatan sosial.

Bisa dikata, Kaskuser Regional Makassar merupakan komunitas 'asing' di dunia nyata. Komunitas ini hanya dikenal bagi orang yang intens berselancar di dunia maya karena kaskus merupakan situs komunitas yang memiliki jumlah anggota mencapai jutaan dan tersebar di dunia.

Kaskuser Makassar cukup susah ditemui di dunia nyata. Maklum, memasuki usia ke-5 Kaskuser Regional Makassar belum memiliki sekretariat resmi. Mereka hanya dapat ditemui di warung kopi (warkop) hingga cafe. ''Kami biasanya janjian bertemu di warkop yang memiliki wifi sehingga kegiatan on line tetap berlanjut,'' ujar Ciwang, sapaan akrab Irwansyah.

Pertemuan tersebut tak hanya jadi ajang kongkow-kongkow. Mereka juga berpartisipasi pada sejumlah even-even seperti pameran yang baru-baru ini diselenggarakan di gedung Celebes Convention Center (CCC) Makassar.

Selain itu, para kasak-kusuk ini aktif dalam kegiatan sosial seperti buka puasa bersama anak yatim pada bulan ramadhan lalu dan aksi donor darah. ''Mengingat stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) yang menipis, maka kami mencoba mengumpulkan darah bagi mereka yang membutuhkan,'' papar alumnus STIKOM Fajar Makassar ini.

Tak hanya itu, Kaskuser Makassar yang saat ini berjumlah sekitar 400 orang kerap melakukan penggalangan dana bagi mereka yang tertimpa bencana alam dan masyarakat yang membutuhkan. Konsep penggalangan dana ini cukup dengan menyetor ke nomor rekening operator Kaskus Regional Makassar.

''Nilai bantuannya memang tak seberapa. Tapi, jangan dilihat jumlahnya tapi kegiatan sosial ini semata-mata bentuk kepedulian kami kepada mereka yang tertimpa bencana baik materi maupun dalam bentuk non materi,'' tutur Humas Hotel Clarion Makassar ini.

Tren komunitas tersebut membuat Irwansyah bersama kaskuser (julukan anggota kaskus) menggagas pembentukan Kaskus Regional Makassar. Maklum, saat itu sudah ada terbentuk kaskus regional di beberapa wilayah di Pulau Sulawesu seperti Kaskus Manado dan Palu.
Pembentukan regional ini dianggap akan mempererat jalinan silaturahmi warga Makassar yang tersebar di dunia meski hanya berkenal di dunia maya.

Dilandasi pemikiran tersebut, Ciwang lalu perlahan-lahan beranjak dari kaskus nasional. Ia bersama kaskus asal Makassar memberanikan diri menyurat (membuat proposal) ke pendiri Kaskus untuk membuat Regional Makassar.

“Syarat membentuk regional harus memiliki anggota minimal sebanyak 50 orang dan mendapat persetujuan dari kaskuser yang tersebar di Indonesia,” sebut Ciwang.

Perjuangan tak hanya sampai disitu. Hampir empat bulan lamanya Ciwang Cs berkampanye di situs kaskus untuk mencari simpati dan dukungan dalam pembentukan regional Makassar. Bentuk kampanye dengan membuat threat (posting) sebagai ruang pemberian support dari para kaskuser.

“Gerilya kampanye yang kami lakukan selama empat bulan berbuah manis. Proposal pembentukan Kaskus Regional Makassar disetujui,” paparnya.

Hampir setahun berjalan, Kaskus Makassar beroperasi seperti air yang mengalir. Jumlah keanggotaan dari hari ke hari kian bertambah. Untuk bergabung, cukup mengisi buku tamu dan alamat. Namun, tak dinanya halaman Kaskus Makassar kerap ditempel dengan posting foto vulgar. Hal tersebut membuat Kaskus Regional Makassar dicap negatif.

Akhirnya, para penggagas regional Makassar pun membahas kondisi tersebut dan sepakat membuat struktur kepengurusan. Ya, Kaskus Makassar harus memiliki operator atau pemimpin. Operator inilah yang memfilter segala bentuk posting-an yang mengandung pornografi dan sara.

“Kami setuju membuat pilkada untuk menentukan pemimpin. Ada lima orang yang maju menjadi calon pemimpin dan teman-teman membuat pemilihan dan saya dipercayakan untuk mengatur segala bentuk posting,” ujarnya.

Hingga saat ini, jumlah komunitas Kaskus Regional Makassar tercatat sebanyak 400 orang. Dari jumlah tersebut, 250 orang dinyatakan aktif secara on line. Mereka berlatar belakang mahasiswa hingga kalangan profesional.

“Tiap bulan, pertambahan jumlah anggota sangat signifikan. Saat ini, kami lagi fokus mengajak pelajar untuk turut bergabung dengan membuat kegiatan yang segmentasinya anak muda,” tandasnya.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.