Mencari ‘Tiupan Lilin’ di Tallo

Monday, 10 November 2008


9 November 2008, Kota Makassar beranjak ke usia 401 tahun. Ada apa saja di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo?

Sekitar pukul 14.00 Wita, awan tebal menyelemuti bumi Anging Mammiri. Di ORK IV Lingkungan Tallo Kecamatan Tallo, tepatnya 7 km di sebelah Utara pusat kota, puluhan manusia nampak terlihat sibuk. Ada yang duduk melingkar sembari berbicara serius, ada suara gendang dari balik pepohonan yang rindang, dan sejumlah perempuan yang melenggak-lenggok.
Aktivitas tersebut hanyalah warna-warni di Kompleks Makam Raja-raja Tallo. Inti dari kedatangan masyarakat di salah satu situs bersejarah itu tak lain untuk berziarah ke makam tetua-tetua ‘birokrat’ Makassar di zaman feodalisme.
Pagi kemarin, makam pelaku sejarah Kota Makassar itu disambangi para pejabat-pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) bersama unsur muspida yang dipimpin langsung Wali Kota Makassar A Herry Iskandar. Ziarah itu dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Makassar.
Tallo merupakan salah satu kawasan bersejarah bagi Kota Makassar. Dilokasi itulah pusat ‘pemerintahan’ Anging Mammiri ketika Indonesia belum merdeka atau disebut dengan Kerajaan Tallo.
“Sulsel itu ibu kotanya Makassar sedangkan ibu kota dari Makassar adalah Tallo,” ucap Koordinator Pengelola Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Saharuddin, kemarin.
Pria kelahiran 1968 ini memaparkan, ziarah para pejabat-pejabat Pemkot Makassar sudah menjadi rutinitas dalam memperingati hari jadi Makassar. Datang, berkeliling di kawasan makam raja, lalu bergegas pulang. “Mereka hanya keliling demi penghormatan dan penghargaan kepada raja,” kata Saharuddin yang telah mengabdi sejak 1988 ini.
Situs bangunan bersejarah itu pada umum berciri makam abad XVII yang terbuat dari batu padas, batu bata dari tanah liat, dan perekat dengan luas area sekitar 1 hektare (Ha). Dalam kompleks makam itu terdapat 78 makam dengan type yang berbeda-beda yaitu tipe susun timbun makam yang dibuat dari susunan balok-balok batu persegi menyerupai candi dan terdiri atas kaki, tubuh, dan atap dengan bagian dalam yang berongga, tipe papan batu yang dibuat menurut bangunan kayu yang terbuat dari empat bilah papan batu berbentuk empat persegi panjang, dan tipe kubah dengan bangunan berongga dan berdiri diatas batur segi empat, dengan atap kubah terdiri atas empat bidang lengkung.
“Bentuknya memang berbagai macam seiring dengan perkembangan zaman misalnya dalam hal masuknya Islam di Makassar. Namun, seiring lamanya berdiri bangunan itu, bangunan makam Raja XIII sudah agak rusak,” paparnya.
Di lokasi pemakaman itu, terdapat lima raja Tallo yang dimakamkan diantaranya Raja Tallo VII Sultan Mudaffar (Imanginyarrang Dg Makkiyo), Raja Tallo XII Sultan Abdul Kadir (Mallakkang Dg Mangurangi, dan Raja Tallo XV dan Raja Gowa XXX Sultan Muh Zainal Abidin (La Oddang Riu Dg Mengeppe).
Saharuddin menjelaskan, Kerajaan Tallo merupakan kerajaan kembar dengan Kerajaan Gowa. Peninggalan sejarah dari kerajaan kembar atau sering disebut Kerajaan Makassar itu, masih jelas menunjukkan bahwa di sana pernah ada berdiri kerajaan. “Salah satu situs yang masih ada yaitu makam ini meskipun sudah dipugar 1977,” sebut dia sembari telunjuknya menunjuk ke sejumlah makam-makam raja itu.

***

Pemugaran tersebut bersumber dari anggaran pusat untuk menetapkan makam itu sebagai situs dan cagar alam budaya. Lantas, sejauh mana peranan Pemkot Makassar selaku ‘pewaris tahta’? Saharuddin mengaku belum ada torehan buat para leluhur-leluhur itu. “Belum ada apa-apa. Perhatian masih minim. Lihat saja fasilitasnya. Pemkot hanya membuat pagar. Barang-barang peninggalan yang sebelumnya ada di museum dibawa ke Benteng Fort Rotterdam,” katanya.
Pukul 14.30 Wita, hujan pun membasahi tanah Anging Mammiri. Dinding-dinding bangunan bersejarah itu basah. Pada perayaan HUT Makassar ini, semuanya berjalan seperti hari biasanya. Ya, cukup dengan menyambangi, berkeliling, lalu bergegas pulang.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.