Berburu Sepeda Ontel Bekas Tapi Orisinil (2)

Sunday, 28 December 2008


Antara Gengsi, Olahraga, & Nostalgia Zaman Kolonial

Sepeda ontel kerap tak luput dari paggandeng. Tapi, para kolektor mencoba melepas image tersebut dengan merogoh kocek puluhan juta demi melestarikan ‘warisan’ zaman kolonialisme. Merdeka!

Paggandeng (bahasa Makassar) merupakan julukan bagi para penjual ikan yang menjajakan hasil laut itu dengan mengendarai sepeda ontel. Gengsi itulah yang melekat selama ini jika kendaraan roda dua ini dicap sebagai ‘sepeda kelas bawah’.

Tapi, jangan salah. Di mata kolektor, sepeda ontel memiliki nilai historis pada zaman kemerdekaan. Wajar saja kalau para pemburu sepeda klasik itu harus merogoh kocek demi menjaga sepeda yang kian langka ini. Saking langkanya, perburuan pun dilakukan hingga harus terbang ke Pulau Jawa.

“Selain enak digunakan berolahraga, puang Karim sangat suka dengan nilai sejarah dari sepeda ini. Sekedar bernostalgia,” ucap Muhammad Taslim yang selama ini mendampingi Andi Karim Beso M, kolektor sepeda ontel bekas tapi orisinal dalam melakukan perburuan.

Saat ini, Andi Karim telah mengoleksi 20-an sepeda ontel dengan merek yang berbeda-beda antara lain Gazelle, Simplex, Triumph, Locomotief, dan BSA yang diproduksi sejak 1910-an (masuknya sepeda di Indonesia). Malah, ada juga sepeda yang tidak memiliki rantai roda tapi masih menggunakan gardan (alat pemutar roda yang saat ini digunakan di mesin mobil).

Lisensi sepeda itu pun berasal dari berbagai macam negara seperti Belanda, Inggris, Amerika, dan Jerman. Menurut Taslim, sepeda ontel asal Inggris paling banyak beredar di Makassar. Sebab, sepeda tersebut ada sejak zaman penjajahan yang dikhususkan para prajurit Inggris yang berada di Makassar. Sepeda itu dipasangi logo berbentuk pangkat yang melekat pada garpu depan sepeda. Pembagian sepeda itu disesuaikan dengan pangkat dari masing-masing prajurit. “Konon, itu sepeda militernya Inggris,” papar Taslim yang dikenal selama ini sebagai anak jalanan di Makassar.

Dari berbagai merek tersebut, rupanya merek Gazelle menjadi favorit dimata mania sepeda ontel. “Puang memiliki 3 Gazelle. Sepeda ini enak digunakan berolahraga. Saat mengayuh, kaki lurus turun ke bawah,” jelas Taslim yang saat ini bergabung dalam Komunitas Sepeda Ontel Indonesia (Kosti) Sulsel.

Taslim mengatakan, Karim yang baru menggeluti koleksi sepeda ontel sejak dua tahun lalu ini hanya mendapatkan empat jenis sepeda ontel di Makassar. Sepeda itu didapatkan dari loakan di Jalan Kakatua dan teman dekatnya. “Sepeda terakhir yang didapatkan di Makassar bermerek Gazelle dengan membeli sepeda milik H Mamat yang berada di Kabupaten Maros. Saat itu dibeli dengan harga sekitar Rp2 juta dengan kondisi yang masih baik,” tambah Taslim.

Dia menguraikan, pemilik awal sepeda tersebut adalah kaum non pribumi. Seiring perkembangan zaman, sepeda itu lalu diberikan kepada penjual mangga sebagai alat transportasi untuk menjajakan dagangannya. Selang beberapa tahun kemudian, seorang pengawal Pangdam VII Wirabuana yang bernama Suyoto membeli sepeda tersebut lalu beralih ke H Mamat.

“Rata-rata, sepeda ontel yang ada di Makassar itu awalnya dimiliki orang China yang diberikan kepada orang mengingat mungkin sudah tidak zaman lagi,” kata Taslim.
Karena kurang puas dengan koleksi ontel, perburuan Karim pun dilanjutkan ke Pulau Jawa untuk melacak semua pasar loakan yang khusus menjajakan sepeda hingga suku cadang semisal lampu, pelek, ban, dan stang. Maklum, spare part sepeda ini sudah tidak didapatkan atau dijual di Kota Makassar.

Mengenai harga, tak dinanya spare part sepeda ontel sangat fantastis -lebih mahal jika dibandingkan dengan harga sepedanya. Untuk sadel berbentuk keong dan dinamo yang menggunakan karbit, Karim harus merogoh dana mencapai Rp500 ribu hingga Rp2 Jutaan demi menjaga orisinalitas sepeda ontelnya. “Bapak Karim setiap bulannya harus menyempatkan diri ke Jawa hanya untuk mencari orisinalitas komponen. Sebab, negara produksi sepeda itu masing-masing memiliki ukuran tersendiri,” jelasnya.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.