Susuri Lorong Tanpa Senjata Api (1)

Saturday, 21 February 2009


Lazimnya, polisi saat berpatroli tak lepas dengan senjata api. Tapi, patroli kali ini cukup menggunakan sebuah pentungan.

Ipda Jamaluddin Munir terlihat lelah. Tangannya terus mengibas-ngibaskan wajahnya dengan baret penutup kepalanya. Sesekali, tangan kanannya menyeka keringat yang bercucuran dari keningnya.

“Lumayan, lakukan kewajiban sekaligus berolahraga. Pokoknya, naik sepeda enak,” tutur salah satu anggota Samapta Polwiltabes Makassar ini usai melakukan patroli dengan menggunakan sepeda.

Menurutnya, dirinya tak merasa malu dengan kendaraan tersebut. Jamal yang sebelumnya terbiasa berpatroli dengan menggunakan motor beranggapan, selain berolahraga, sepeda tak gunakan bahan bakar minyak (BBM) dan kendaraan bebas polusi. Jenis sepeda yang digunakan pun cukup modern, yakni sepeda gunung.

Berpatroli dengan bersepeda adalah rutinitas sehari-hari bagi pria yang akrab disapa Jamal ini dengan lima jenis rute yang telah ditetapkan. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak awal 2008 lalu dengan tujuan memantau situasi ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtibmas) di Kota Makassar.

“Tadi saya dapat patroli dirute satu dengan Jalan Ahmad Yani, Cokroaminoto, Pasar Sentral atau Jalan Irian, Muhammadiyah Baru, Butung, Sulawesi, Timur, Bali, Serui lalu kembali ke Polwil,” papar dia.

Adapun empat rute patroli lainnya yakni untuk rute dua melintasi Jalan Ahmad Yani, Kajaolalido, Lamadukelleng, Cenderawasih, H Bau, Penghibur, Pasar Ikan, dan Sultan Hasanuddin. Untuk rute tiga yakni Jalan Ahmad Yani, M Yusuf, Andalas, Laiya atau Pasar Sentral, Cokroaminoto, Nusakambangan, dan Serui.

Sementara untuk rute empat yakni Jalan Ahmad Yani, Serui, DR Wahidin, Timor, Bali, dan Serui sedangkan rute lima meliputi Jalan Ahmad Yani, Kajaolalido, Lasinrang, Andi Mappanyuki, Cendrawasih, Haji Bau, dan Sultan Hasanuddin.

Dalam melalui rute tersebut, Jamal mengaku tak membawa senjata api saat memasuki lorong-lorong. Cukup pentungan. Hal tersebut sudah menjadi aturan yang ditetapkan Polwiltabes Makassar sejak program ini diluncurkan.

“Tugas kami hanya ingin tahu situasi yang berkembang di masyarakat, tepatnya lorong-lorong yang tak bisa dimasuki kendaraan patroli jenis motor dan mobil. Pada intinya pencegahan tindakan aksi kriminalitas,” papar dia.

Jamal tak sendiri. Polwiltabes membuat sejumlah regu untuk melakukan patroli bersepada. Setiap regunya terdiri dari empat orang petugas polisi dan satu diantaranya ditetapkan sebagai koordinator untuk setiap regu.

Lantas bagaimana jika terjadi aksi kriminalitas? Dengan tegas Jamal menjelaskan, anggota yang berpatroli menggunakan sepeda juga dilengkapi dengan sebuah alat komunikasi yakni Handy Talkie (HT). “Jika ada kejadian, kami cukup laporkan di Polsek dan Polres terdekat untuk mengirim pasukan Patmor dalam melakukan proses pengamanan,” ujar dia.

Kegiatan patroli sepeda memang masih asing bagi masyarakat di Kota Makassar. Sebab, sebelum adanya program ini, patroli identik dengan desingan motor dan suara sirine mobil. Petugas ini pun selalu mendapat pertanyaan dari masyarakat jika menyambangi pos Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) yang berada dalam pemukiman penduduk.

“Biasanya, kalau kami patroli dilorong-lorong pemukiman, masih ada masyarakat yang merasa kaget dengan polisi yang menggunakan sepeda. Namun, kami tetap menjelaskan bahwa keberadaan kami tak lain untuk menjaga kamtibmas di Kota Makassar atau bersifat pencegahan sekaligus menghimpun informasi dimasyarakat tentang tingkat kerawanan,” pungkas dia.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.