“Tolong, Jangan Telantarkan Kami”

Saturday, 6 December 2008


Deru mesin bulldozer mulai menggaung. Tak henti-hentinya, alat berat itu menggerus timbunan tanah merah setinggi dua meter. Tujuannya diratakan. Bungari Daeng Intang, 53, tak peduli. “Sekalian saja saya ikut ditimbun,” ucapnya pasrah.

Bungari Dg Intang adalah salah satu korban penggusuran di atas lahan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Mariso tahap II. Jarak bulldozer dengan eks rumah Dg Intang –sapaan akrabnya, hanya sekitar empat meter. Meski rumah panggungnya sudah hancur porak-poranda, ibu dari dua anak ini tetap tinggal beratapkan tenda beralaskan sepuluh lembar papan.
Bulldozer itu resmi beroperasi, pagi kemarin. Sejumlah personil kepolisian masih terlihat berjaga-jaga di beberapa titik di Jalan Metro Tanjung Bunga, tepatnya di depan jalan masuk rusunawa Mariso.
Tak ada tawa dan senyum warga disepanjang jalan Rajawali I Kelurahan Panambungang, Kecamatan Mariso. Tak ada korban penggusuran yang beranjak meninggalkan tanahnya. Semuanya hanya menampakkan ekpresi yang pasrah diatas puing-puing rumah yang beratapkan tenda tanpa dinding.
Dg Intang tak tahu entah harus kemana. Perempuan asal Palu, Sulawesi Tengah ini tak punya sanak saudara di Kota Makassar. Pun, sejumlah tetangga tak terusik dengan kondisi yang dialami Dg Intang. “Semalam, saya hanya tidur lima menit. Dingin dan banyak nyamuk,” kata Dg Intang yang sehari-harinya bekerja sebagai Dukun Beranak.
Pada aksi penggusuran yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Makassar dua hari lalu, rumah perempuan yang sudah bermukim selama tujuh tahun itu merupakan target pertama penggusuran. Hujaman linggis milik Satpol PP Makassar membuat perangkat alat rumah tangganya rusak. Beras yang disiapkan untuk konsumsi sehari-hari keluarga kecil Dg Intang berhamburan. Satpol PP tak hanya menggusur, melainkan juga merusak.
“Tak ada satu kata pun kepada kami. Mereka langsung merusak rumah saya. Seng dan balok rumah saya itu dicicil dengan hasil keringat suami saya. Kok malah dirusak dan tak ada pemberitahuan kepada kami kalau ada penggusuran,” paparnya yang didampingi suaminya, Sultan Dg Mabe, 36.
Dg Intang juga menagih janji pejabat pemerintahan di kota yang dijuluki Anging Mammiri itu. Dikatakan, para eksekutif dan legislatif dulu berjanji tidak akan lagi melakukan penggusuran. Namun, janji manis itu hanya isapan jempol belaka. Buktinya, aksi penggusuran tetap berjalan tanpa ada solusi yang terbaik. “Sudah menggusur, kami ditelantarkan,” ujarnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Sebanyak 21 Kepala Keluarga (KK) yang tergusur hanya bisa tinggal bersama puing-puing balok dan seng rumah yang tak lagi menyatu. “Tak ada yang menawarkan untuk pindah sementara ke rumah yang lain. Kampung saya jauh Uang sekolah anak saya saja sulit, apalagi mau sewa rumah.,” tambahnya.
Pukul 17.00, terik matahari mulai sirna. Dg Intang dan Dg Mabe tak bergeming meninggalkan puing-puing sisa rumahnya. Dg Intang lalu menyiapkan lilin kecil. Sore akan berganti malam. Angin laut sudah siap berhembus.
Sampai kapan Dg Intang terus bertahan di atas tanah yang dianggapnya sarat kenangan itu? Dengan suara yang agak parau, lidah perempuan ini berucap, “Jangan telantarkan kami. Buka mata hatimu Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Tolonglah kami dengan sedikit rasa kasihan dengan menyiapkan lahan pengganti walaupun hanya tanah dan bangunan seluas lima meter yang penting ada tempat tidur. Kalau memang tak ada, sekalian saja saya ikut ditimbun.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.