Makassar Menuju Kota Dunia

Saturday, 27 June 2009


Wajah Kota Makassar,Provinsi Sulsel dari tahun ke tahun terus berbenah.Bak jamur,pembangunan dan investasi berkelas internasional terus menggeliat. Tujuannya hanya satu; mengembalikan status Makassar sebagai kota dunia tanpa melepas jati diri.

PADA abad XVI lalu, Makassar di mata dunia sudah tidak asing lagi.Kala itu,kota yang dijuluki Anging Mammiri ini dikenal sebagai pusat bandar niaga. Kehadiran Bandar Niaga Makassar yang berada di muara Sungai Tallo dan Jeneberang yang tak jauh dari Benteng Somba Opu itulah yang menjadi pusat transaksi dalam dunia perdagangan maritim.

Transaksi perdagangan ‘dilaut bebas’ di zaman kerajaan itu pun tersebut terus menggeliat.Alhasil, para pedagang dari berbagai di bumi ini memilih menetap di kota Makassar. Keanekaragaman penduduk baik lokal dan non lokal saling bersinergi. Data menyebutkan, jumlah penduduk Makassar kala itu sudah memiliki 100.000 jiwa sedangkan Kota Amsterdam Negara Belanda hanya berpenduduk 20.000 jiwa.

Kota Makassar pun dicap sebagai sebagai salah satu kota dari empat kota terpenting di Asia, yakni Ayyutia yang berada di Thailand, Malacca di Malaysia), dan Batavia (Jakarta) yang berada di Indonesia. “Ada sekitar 26 negara yang memilih tinggal di Makassar untuk berdagang diantaranya Portugis, China,Turki, Spanyol, dan India,” tutur Sejarawan Kota Makassar Andi Ima Kesuma.

Dalam perjalanan sejarah puncak peradaban dunia, pada abad tersebut Makassar telah membuktikan pernah menjadi 20 kota terkemuka di dunia. Kunci sejarah puncak kejayaan Kota Makassar dalam peradaban dunia tak lepas dari jalinan hubungan internasional, kawasan pasar bebas, dan pusat penyebaran Islam.

Beranjak dari aspek kesejarahan, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar ditangan Ilham Arief Sirajuddin mencoba kembali menggaungkan torehan sejarah itu dengan sebuah visi dan misi “Makassar Menuju Kota Dunia Dalam Kearifan Lokal”. Dan tak dipungkiri, mengembalikan sejarah Makassar sebagai kota dunia tidaklah mudah.

Secara mendasar yang menguntungkan mempercepat laju menuju cita-cita itu, menurut Ilham, selain torehan sejarah, posisi Makassar dalam letak geografis Indonesia yang berada pada sentrum antara timur dan barat. “Orang dari timur yang akan menuju ke Barata pasti singgah di Makassar. Begitu juga sebaliknya.

Sehingga dulu Makassar sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia, sejak tahun 2004 tidak saya pakai lagi. Tapi, bagaimana membuat makassar sebagai living room,”kata Ilham. Makassar diharapkan menjadi ruang keluarga bagi masyarakat Indonesia dimana semua aktivitas dari timur akan bertumpu di Makassar.

Dan bagaimana mewujudkan itu,tentunya Makassar kini sudah berbenah dengan membangun apa yang menjadi kebutuhan masyarakat makassar dan masyarakat Indonesia. Untuk menuju kota dunia, Pemkot Makassar harus meletakkan pondasi yang kuat dengan sumber daya manusia, infrastruktur yang layak,perbaikan lingkungan, penataan transporasi, pelayanan kesehatan dasar yang memenuhi, sistem pelayanan yang tidak birokratis, akses pendidikan serta aspek sosial, budaya dan stabilitas keamanan.

Di masa pemerintahan kali kedua bagi Ilham Arief Sirajuddin dalam memimpin Makassar,tandatanda Makassar kembali ke kota dunia dengan ‘peradaban yang baru’ sudah nampak. Dalam hal infrastruktur, Makassar sebagai ibukota dari Provinsi Sulsel menata pintu masuk baik udara, laut, darat, dan dunia maya.

Salah satunya dengan menaikkan status jalur transportasi bandara Sultan Hasanuddin menjadi skala internasional yang diresmikan pada akhir 2008 lalu. Begitupun dengan perluasan Pelabuhan Soekarno – Hatta yang dijadwalkan terealisasi pada akhir tahun ini dengan skala internasional dan pengerjaan jalan fly over serta pelebaran sejumlah jalan dalam mengantisipasi tingkat kemacetan.

(selengkapnya lihat grafis infrastruktur). Dalam perencanaan tata ruang Makassar 2008-2028, Pemkot Makassar pun telah merancang pembangunan jaringan kereta api monorel dengan rute Bandara Sultan Hasanuddin yang nantinya menyusuri kawasan perkotaan hingga kawasan pelabuhan.

Pada tahun 2020, Kota Makassar pun dikembangkan sebagai Kota Megapolitan Mamminasata yang mencakup Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar. Kawasan ini diproyeksikan sebagai urat nadi perekonomian Sulawesi Selatan dan pusat ekonomi di kawasan timur Indonesia. Dalam konsep Mamminasata, Makassar nantinya ditempatkan sebagai sentra pertumbuhan.

Konsep itu laiknya adalah Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Tanggerang Depok dan Bekasi). Pembangunan di Makassar dititikberatkan pada fungsi bisnis dan komersial. Dua proyek paling strategis yang diusulkan adalah Jalan Trans Sulawesi dan Bypass Maminasata. Bypass Mamminasata akan membentang dari Maros sampai Takalar.

“Semua pembangunan yang dilakukan berlandaskan kearifan lokal dengan tidak mencabut sejarah Makassar, nilai-nilai luhur yang ada, atau tak menghilangkan jati diri Makassar. Inilah yang disebut dengan pembangunan berkarakter tiga dimensi dalam artian proses pembangunan dilakukan oleh orang yang tahu dengan dengan kondisi yang ada dan melibatkan sumber daya manusia lokal,” papar salah satu penggagas Makassar Menuju Kota Dunia, Idris Patarai.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.