Berlabuh di Kayu Bangkoa...

Sunday, 27 December 2009


Hampir 15.000 jiwa masyarakat Makassar memilih menjalani hidup di sejumlah pulau yang masih berada dalam wilayah Anging Mammiri. Warga pulau inilah yang sehari-hari memanfaatkan sarana dermaga penyeberangan Kayu Bangkoa menuju pusat Kota Makassar.

Jejeran air galon, jerigen, dan tabung gas 3 Kilogram memadati salah satu lorong yang berada di Jalan Penghibur. Puluhan kendaraan roda dua dan empat nampak hilir mudik saat matahari mulai beranjak ke atas kepala, Sabtu (31/10).

Lorong tersebut memiliki lebar sekitar dua meter dengan panjang 15 meter hingga ke bibir pantai yang diapit swalayan dan hotel mewah. Tak ada nama jalan yang diberikan pada lorong itu. Yang nampak pada gerbang lorong itu hanya sebuah plang bertuliskan Dermaga Penyeberangan Kayu Bangkoa.

Dermaga itulah yang menjadi arus masuk dan keluar warga Makassar yang bermukim di Pulau Barang Caddi, Barang Lompo, dan Kodingareng. Warga pulau itu memanfaatkan dermaga untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari seperti pasokan air minum dan sekaligus menikmati kehidupan kota metropolitan.

Sebelum menuju dermaga, terdapat sebuah jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan yang memiliki panjang 10 meter dan dibangun sejak 1995 lalu itu sudah tidak dalam posisi tegak. Selain lapuk, atap (sirap) pun sudah mulai bocor. ”Kayunya sudah mulai lapuk dihantam ombak,” papar seorang warga Pulau Lae-Lae bernama Basri.

Kayu Bangkoa dalam bahasa Indonesia adalah kayu dari pohon bakau. Konon, dermaga itu diberikan nama Kayu Bangkoa karena daerah yang tak jauh dari Pantai Losari itu menjadi lokasi persinggahan sampah berupa kayu bakau.

Dia menceritakan, keberadaan dermaga tersebut sudah difungsikan sejak tahun 1970. Keberadaan dermaga Kayu Bangkoa hampir menyamai Pelabuhan Paotere. Bedanya hany terletak pada historis. Paotere terkenal dengan aktivitas kapal phinisi dengan rute hingga ke luar negeri sedangkan Kayu Bangkoa hanyalah pulau-pulau yang berada dalam wilayah Makassar.

Basri menambahkan, pada tahun itu, dermaga itu cukuplah luas. Namun, luas dermaga itu kian menyempit saat memasuki tahun 2002. Sebuah toko yang berada di samping kanan memperluas bangunannya dan membuat jembatan penyeberangan Kayu Bangkoa laiknya seperti lorong-lorong pemukiman kumuh.

”Dulu sangat luas. Ketika bangunan di samping ini (toko) menimbun laut, lokasi ini menjadi sangat sempit. Dulunya juga memang belum ada dermaga. Karena adanya pengambilan lahan itu, barulah juga dibuat dermaga tepatnya tahun 2003,” papar pria kelahiran Galesong, Kabupaten Takalar ini.

Sebelum Pemkot Makassar melakukan revitalisasi Losari, masyarakat menjadikan pantai tersebut sebagai lokasi jalur alternatif. Hampir semua pemilik kapal motor menggunakan Pantai Losari sebagai ’terminal’. ”Karena sekarang sudah berubah, semua aktivitas penyeberangan dipusatkan di Kayu Bangkoa,” jelasnya.

Dengan kebijakan relokasi arus transportasi yang semula di Pantai Losari, Kayu Bangkoa pun kian padat dan ramai. Hampir 400 orang hilir mudik di dermaga itu setiap hari.

Seiring dengan pembuatan dermaga itu, pemerintah mulai menata dengan membuat sejumlah kios yang berada di samping Hotel Pantai Gapura. Pembangunan kios itu untuk merelokasi para pedagang yang dulunya meluber di sepanjang lorong tersebut.
Selang beberapa tahun kemudian, Pemkot Makassar pun membangun sebuah gedung baru yang diperuntukkan bagi Dinas Perhubungan (Dishub). Pembangunan gedung itu untuk mengawasi aktivitas antar pulau itu. Sayangnya, gedung baru itu tak berfungsi dengan baik.

”Beberapa bulan lalu ada pegawai yang ditempatkan di gedung itu. Saya kurang tahu kenapa saat ini kosong. Mungkin karena listrik dan airnya belum ada,” ujar ayah dari dua anak ini.

***

Aset Tanpa Pengelolaan

Dermaga Penyeberangan Kayu Bangkoa tak hanya jadi lokasi hilir mudik masyarakat pulau. Sarana ini juga menjadi jalur transportasi menuju eksotisme sebelas pulau yang berada di wilayah bumi Anging Mammiri.

SETELAN celana pendek dipadu bajo kaos. Ada ransel dipundak. Dan, topi untuk menepis sengatan matahari. Itulah pemandangan kontras pada ratusan masyarakat yang hilir mudik di Dermaga Penyeberangan Kayu Bangkoa.

Pemandangan seperti itu dapat terlihat di akhir pekan. Mereka adalah wisatawan domestik, baik dari Makassar dan luar kota. Mereka menggunakan dermaga itu untuk mengunjungi pulau dalam melepas penat setelah lelah dengan aktivitas kerja dan hingar bingar kehidupan perkotaan.

”Kalau hari Sabtu dan Minggu, banyak penumpang dari kota yang menuju pulau. Ada yang carter dan bersama dengan masyarakat pulau,” papar salah satu pemilik Kapal Motor (KM), Basri.

Mayoritas, wisatawan itu mengunjungi seperti pulau Kodingareng, Samalona, Barang Lompo, dan Barang Caddi. Maklum, pulau-pulau ini belum ’dijual’ ke pihak investor sehingga bisa dinikmati secara gratis.

Pemandangan yang menonjol di dermaga itu yakni deretan motor yang terparkir di jembatan dermaga. Pemilik motor mayoritas masyarakat yang bermukim di perkotaan yang mengunjungi pulau hanya untuk memancing semalam suntuk. Cukup bernegosiasi harga dengan ’penjaga’, motor pasti aman. ”Di sini aman. Ada yang jaga. Digembok lagi,” ujar Basri.

Masyarakat perkotaan yang melepas penat untuk bepergian ke pulau cukup hanya merogoh sewa kapal. Tak ada tiket retribusi yang dipungut sebagai ’uang setoran’ ke kas daerah Pemkot Makassar. Padahal, jika dermaga ini dikelola dengan baik tentu menjadi aset yang bernilai dalam menopang sektor pariwisata. Wajar saja kalau kondisi dermaga ini tak banyak berubah. Cukup jembatan penyeberangan yang berada dilorong-lorong sempit meski padat dengan pengunjung.

”Sebenarnya, uang untuk itu ada (retribusi) yang dipungut langsung oleh salah satu masyarakat yang dipercayakan dari pemerintah. Buktinya, setiap bulan ada petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang datang untuk mengambil dana itu,” ungkapnya.

Jumlah total kapal yang beroperasi di dermaga ini sebanyak delapan buah. Empat kapal untuk jurusan Pulau Barang Lompo, rute Kodingareng tiga unit, dan satu unit untuk jalur ke Pulau Barang Caddi. Semua kapal itu berstatus milik pribadi yang dimiliki masyarakat pulau. ”Harga per orang bervariasi. Tergantung jauh dekatnya lokasi yang diinginkan. Tapi, rata-rata para wisatawan yang mengunjungi pulau melakukan carter,” kata Basri yang sudah memiliki kapal sejak lima tahun lalu.

Dalam sehari, kapal yang dimiliknya bolak-balik dari Kodingareng sebanyak tiga kali. Mulai pukul 07.00 hingga 22.00 Wita. Kapalnya dapat menumpang maksimal 15 orang jika cuaca cerah atau ombak tidak tinggi. ”Sebenarnya, Makassar sangat beruntung memiliki pulau-pulau itu. Tapi, bagaimana bisa bagus kalau tak dikelola dengan baik. Dermaganya saja sudah lapuk,” keluhnya.

Dia berharap, dermaga yang hadir sejak 1970-an itu mendapat sentuhan dari Pemkot Makassar. Bukan dengan membiarkan para pengusaha menimbun laut untuk memperluas usahanya untuk kepentingan pribadi.

”Saya berharap, dermaga dari kayu ini diganti dengan batu. Apalagi, masih ada janji Ilham Arief Sirajuddin dan Supomo Guntur (IASmo) pada Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) beberapa lalu ke masyarakat pulau untuk menyuplai listrik ke sejumlah pulau-pulau masih belum terealisasi hingga saat ini,” tandasnya.

Perbaikan infrastruktur kepada masyarakat pulau sudah sepatutnya menjadi salah satu prioritas bagi Pemkot Makassar. Sebab, mereka masih bermukim dalam wilayah Kota Makassar. Perbaikan itu, tentu saja serangkaian dengan penataan sektor pariwisata karena Makassar dikenal sebagai wisata bahari.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.