Kisah Dg Coa’ Si Pengulit Sapi

Sunday, 27 December 2009


Menguliti sapi bukanlah keahlian yang membutuhkan teori. Seperti pengakuan Dg Coa yang berprofesi pengulit sapi dengan belajar otodidak. ”Keahlian ini adalah bakat yang turun temurun,” tuturnya.

Di sekitar kawasan Mesjid Al Markaz Al Islami Makassar, Dg Coa’ asyik duduk pada sebuah kursi kayu. Kepulan asap rokok dari rongga mulutnya hanya terlihat sesaat diterpa angin di sore hari, Selasa (24/11). Lokasi tempat dia duduk dengan mesjid yang memiliki desain timur tengah itu diapit sebuah kanal pembuangan air.
Di depannya, nampak tanah lapang yang cukup luas. Pandangannya mengarah kepada bocah-bocah yang lihai menggiring dan mengocek bola kaki. Dg Coa’ pun sesekali mengalihkan pandangannya ke sejumlah sapi yang berada di lapangan mini tersebut.

”Tiap malam, saya menginap di sini untuk jaga sapi,” papar pria kelahiran Makassar ini kepada penulis.

Dg Coa’ mengaku, hampir seminggu sudah melakukan aktivitas tersebut. Maklum, pekan ini umat muslim merayakan hari raya Idul Adha yang identik dengan hari raya kurban. Ayah dari satu anak ini merupakan pengulit sapi di Mesjid Al Markaz Al Islami. Setiap tahun, dia dipercayakan untuk menguliti sapi bagi umat muslim yang melakukan kurban.

Profesi tersebut sudah menjadi pekerjaan sehari-harinya. Sejak kecil, dia sudah sering ikut bersama ayahnya yang juga pengulit sapi (pasisili’-bahasa Makassar). Dari segi pengalaman, dia pernah bekerja di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) saat masih beroperasi di Jalan Maccini. Hingga saat ini, pun dirinya masih dipekerjakan di RPH Tamangapa dengan profesi sebagai pengulit sapi.

Bermodalkan pengalaman itulah, pria yang tinggal di Jalan Kandea Lorong III ini sangat lihai dalam menguliti sapi. ”Satu ekor, saya sendiri bisa menguliti sapi dengan waktu setengah jam,” paparnya yang sudah berpuluh-puluh tahun menggeluti profesi tersebut.

Menguliti sapi, tentunya memiliki cara tersendiri. Mulai dari memegang pisau hingga cara menyorong pisau agar kulit sapi tidak ikut dengan daging. Dalam sehari, khususnya pada perayaan hari raya kurban, dirinya mampu menguliti sapi hingga 7 ekor sapi. ”Butuh tenaga ekstra juga untuk menguliti. Apalagi kalau menarik kulit sapinya,” ujarnya.

Menjadi pengulit sapi tentunya tak bisa berharap banyak meraup uang. Sebab, pekerjaan ini hanya mendapat imbalan berupa kulit sapi. Hal itu sudah menjadi kesepakatan dan tradisi antara pemilik hewan kurban yang akan disembelih dengan pengulit sapi. Kulit sapi itulah yang dijadikan uang bagi Dg Coa’ dengan menjual kepada pengusaha yang bergerak dalam kulit hewan untuk dibuat sebagai sepatu dan alat musik yakni drum.

Harga kulit daging itu pun dijual per kilo. Biasanya, Dg Coa’ menjual ’upah’ dari profesinya itu sebesar Rp5.000 per kilo. Harga lain juga dibayar dengan melihat besar sapi yang sudah disembelih. ”Kalau sapinya besar bisa sampai 25 hingga 30 kilogram kalau sapinya kecil 12 kilogram,” sebutnya.

Upah lain yang diperoleh dari profesi pengulit sapi yakni ’uang jasa’ dari sang pemilik hewan kurban yang sudah disembelih. Bagi Dg Coa’, upah itu dianggap sebagai uang sumbangan.

”Harga menguliti sapi itu tidak ada. Kadang ada uang dalam amplop yang jumlahnya berdasarkan keikhlasan pemilik hewan. Yang pasti, kulit sapi itu sudah menjadi milik pengulit sapi berdasarkan kesepakatan. Tapi, biasanya ada pemilik hewan yang juga mengambil kulitnya. Namun, kulit itu harus dibayar kepada kami,” pungkas Dg Coa’.

***

Ketekunan Dg Coa’ dalam menekuni profesi pengulit sapi berbuah manis. Upah berupa kulit hewan sapi dijadikan modal dalam beternak ratusan sapi.

Di samping Mesjid Al Markaz Al Islami, belasan hewan sapi ditambatkan pada patok kayu di sebuah tanah lapang. Seonggok tanaman hijau segar menjadi santapan hewan yang akan dikurbankan pada perayaan Idul Adha, Jum'at besok. ''Disini cuma ada tiga pemilik sapi. Salah satunya saya,'' papar pria kelahiran Makassar ini.

Di tanah lapang itu, Dg Coa memiliki sebanyak delapan ekor sapi yang siap disembelih. Ukuran berat sapi itu bervariasi. Mulai dari 12 kilogram hingga 30 kilogram. Ukuran inilah yang menjadi nilai harga untuk satu ekor sapi. "Paling mahal Rp11 juta," sebutnya sembari menunjuk sapi yang memiliki berat 30 kilogram.

Resminya, ayah dari satu anak ini berternak sapi pada 10 tahun lalu. Awalnya, dia hanya memiliki sepasang anak sapi yang dibeli dari modal simpanan hasil upah dari penjualan kulit sapi. Sepasang anak sapi itu pun dipelihara hingga berumur tiga tahun. Hasilnya, dari tahun ke tahun sepasang sapi itu membuahkan sapi-sapi baru.

"Kalau dihitung-hitung, jumlahnya sudah ratusan sapi yang saya miliki dan sebagian sudah terjual," tuturnya.

Pada tahun ini, jumlah sapi yang dimilikinya sebanyak 17 ekor. Sembilan dinyatakan sudah terbeli sedangkan sisanya tinggal menunggu pembeli yang berjubel usai pelaksanaan shalat Id. Para pembeli hewan kurban itu mayoritas atas nama perusahaan besar. Misalnya Telkom, Pelindo IV, Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pun sejumlah pejabat sekelas wali kota hingga gubernur.

Dia menjamin, sapi yang dimilikinya sudah menjalani pemeriksaan dari Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan. Setiap sapi mendapat tanda dan surat keterangan yang menyatakan sapi tersebut dalam keadaan sehat. Maklum, sebagai pencegahan atas virus dan penyakit sapi gila.

"Untuk mendapat pemeriksaan, saya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp7.000 untuk tiap ekor sapi," sebut Coa' yang selama ini berdomisili di Jalan Kandea Lorong 3.

Meski sudah sukses jadi peternak sapi, Dg Coa' tetap intens menguliti sapi. Tak hanya sebatas pada perayaan Idul Adha. Pria dengan tinggi badan sekitar 140 centimeter ini terus menjadi pengulit sapi setiap harinya.

"Kerja seperti ini sudah menjadi keahlian yang turun temurun. Sebab, semua orang bisa beternak sapi tapi tak semua peternak bisa menguliti sapi," tandas Dg Coa'.

Dg Coa' memang tak bisa meninggalkan profesi sebagai pasisili (pengulit) sapi. Hampir 20 tahun dirinya bergumul dengan kulit-kulit sapi yang dijadikan sebagai penopang dalam menutupi kebutuhan keluarganya. Saking terbiasanya, Dg Coa' bisa menguliti satu ekor sapi dengan waktu setengah jam.

"Dg Coa' itu paling senior disini kalau soal menguliti. Saya saja satu ekor sapi butuh waktu satu jam yang dibantu dengan dua orang," ungkap Mail yang tak lain rekan dari Dg Coa'.

0 komentar:

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.