Bang Hasan Akhirnya Muncul Ke Publik...

Friday, 12 February 2010


Rambutnya sudah beruban.Tinggi badannya sekitar 160 centimeter.Matanya rada sipit dan berkulit putih. Gagang kacamatanya tak pernah lepas dari daun telinganya.Dialah Hasan Basri yang akrab disapa Bang Hasan.

RABU (10/2), tepatnya pukul 13.00 Wita, Bang Hasan akhirnya tampil ke media dalam sebuah acara konferensi pers di Restoran Kosi Cozy Karebosi Link. Pria kelahiran Geser, salah satu kecamatan di Kabupaten Seram,Maluku ini,didampingi dua anaknya,Hanson dan Jafar.

Nama Bang Hasan terdengar dalam tiga tahun terakhir ini,tepatnya dalam revitalisasi Lapangan Karebosi yang mengundang pro dan kontra di masyarakat Makassar. Maklum, Bang Hasan adalah investor pengelolaan public space tersebut. Nama perusahaannya PT Tosan Permai Lestari, selaku pemenang tender revitalisasi Lapangan Karebosi. Sejak lapangan tersebut direhabilitasi pada 2007, Hasan tak pernah muncul di media massa untuk menjawab seabrek kegelisahan masyarakat tentang gonjang-ganjing dugaan “Karebosi Milik Bang Hasan”. Semua isu miring yang dialamatkan kepadanya tak pernah dijawab.Dia hanya mengu-asakan hal tersebut kepada para direksi perusahaan.

Meski diserang berbagai pertanyaan, Bang Hasan tetap melaksanakan pengerjaan pembangunan. Tujuannya, menyulap Karebosi dari kondisi kumuh menjadi bersih. Tak luput pihaknya membangun sebuah mal bawah tanah yang berada di bawah Lapangan Karebosi. Hingga pengerjaan rampung, Karebosi tetap menjadi bahan sorotan. Isu hak angket digulirkan dari DPRD Makassar untuk memperjelas kerja sama antara Pemkot Makassar dan investor. Di tengah terpaan kritikan tajam,anak Bang Hasan yang dipercayakan selama ini sebagai Komisaris Utama PT Tosan Permai Lestari yang bernama Nurdin Hasan, mengembuskan napas terakhirnya pada 30 Januari 2010. Putra Bang Hasan itu meninggal pada usia 38 tahun.

”Hari ini berbicara karena anak saya sudah jadi korban,” tutur Bang Hasan terbata-bata. Duka yang menyelimuti keluarganya pascakepergian Nurdin, membuat Bang Hasan angkat bicara ke publik tentang polemik Lapangan Karebosi. Dokumen revitalisasi Lapangan Karebosi pun turut dipamerkan sebagai pembuktian bahwa “Karebosi Bukan Milik Bang Hasan”. ”Sejak menjadi Dirut (menggantikan anaknya), saya bersumpah harus menjelaskan semua ini,” tuturnya yang didampingi pena-sihat hukum PT Tosan Permai Lestari, Muh Iqbal. Dia mengakui dugaan Karebosi Milik Bang Hasan, lantaran tidak adanya komunikasi darinya secara langsung kepada media massa selaku penanam modal.

”Nyawa sudah berkorban.Bodoh anak saya (almarhum) kenapa stres.Karena itu, jangan lagi terulang,”paparnya. Hampir dua jam dia memaparkan niatnya revitalisasi Lapangan Karebosi,mulai jumlah investasi yang digelontorkan hingga pela-rangan/ pembatasan akses publik dalam memasuki alun-alun Kota Makasssar itu dengan kehadiran pagar besi setinggi dua meter. Menurut Hasan,pemagaran dilakukan Pemkot Makassar. Pihaknya hanya melakukan pengawasan bangunan dan kebersihan Lapangan Karebosi.

Dia mengibaratkan pihaknya hanyalah tukang demi mengerjakan dan menjaga Karebosi sebagai jantung Kota Makassar (nol kilometer). ”Kami ini mau bekerja di dalam.Anggaplah kami tukang. Tiba-tiba ada polisi dan pengacara. Istilahnya tanah sengketa. Lho kami ini tukang,kokyang digebuk,”ujarnya. Pihaknya pernah menyerahkan pengawasan lapangan tersebut ke Pemkot Makassar.Namun,Pemkot Makassar lalu mengembalikan penyerahan itu agar PT Tosan Permai Lestari tetap melakukan pengawasan.

Tak hanya itu, investor juga dipercayakan merawat pohon dan rumput hijau Karebosi.Tak tanggung- tanggung,Hasan harus merogoh Rp2 juta per bulan untuk ongkos tersebut. ”Tak ada keuntungan yang kami dapatkan di situ.Pohon kami rawat. Kami kerja sampai subuh untuk taman. Kalau kotor kami sapu.Keliru kalau kami yang disalahkan,”tandas Bang Hasan.

Rela Berinvestasi Rp118 Miliar demi Bangun Kampung Halaman
Maret mendatang,Bang Hasan genap berusia 64 tahun.Hampir separuh masa hidupnya dihabiskan di Singapura dalam melampiaskan jiwa bisnisnya.Tepat pada 2007,Bang Hasan lalu kembali ke Indonesia.

TUJUANNYA,membangun Makassar sebagai kampung halamannya. BANG Hasan lahir di sebuah kecamatan di Kabupaten Seram, Maluku Utara.Dia lalu menghabiskan masa kecil hingga remaja di Makassar.

Berbagai macam usaha yang digeluti di kota berjuluk Anging Mammiri hingga melanglang buana ke Singapura. Di negara berjuluk The Lion itu, pria yang bernama lengkap Hasan Basri ini berhasil menjadi seorang miliarder. Buktinya,dia menanamkan modalnya di Makassar dengan angka yang sangat fantastis, yakni Rp118 miliar, sebagai pemenang tender revitalisasi Lapangan Karebosi. ”Kami masuk (mengerjakan Karebosi) dengan mulus. Nilai investasinya Rp118 miliar. Itu tercatat,”paparnya. Niatnya membangun Makassar ditularkan kepada sejumlah anakanaknya. Salah satunya almarhum Nurdin Basri mengelola Karebosi Link (mal bawah tanah di Lapangan Karebosi).

Tawaran itu sempat ditolak almarhum dan menginginkannya tetap berada di Singapura. ”Saya yang terus mengajak almarhum membangun kampung halaman,” tutur Bang Hasan yang menganggap kepergian putranya sebagai korban polemik revitalisasi Lapangan Karebosi. Ya, Karebosi mengundang pro dan kontra saat alun-alun Kota Makassar itu disulap menjadi megah, bersih, dan lokasi bisnis (Karebosi Link).Dugaan “Karebosi Milik Bang Hasan” terus mencuat di stigma masyarakat,mulai pengerjaan hingga penyelesaian revitalisasi.Tepat penanggalan 10 Februari 2010,Bang Hasan akhirnya angkat bicara. Dia tak mau anak-anaknya kembali menjadi korban selanjutnya. ”Kami hanya mengelola Karebosi selama 30 tahun dan sudah dihitung Badan Pemeriksa Keuangan.

Itu sesuai kerja sama antara Pemkot Makassar dan investor.Semuanya sudah merujuk dengan perundangundangan yang berlaku,” ungkap Bang Hasan menampik dugaan “Karebosi Milik Bang Hasan”. Pria berkulit putih ini mengaku sangat patuh dengan undangundang dan peraturan yang berlaku. Bunyi UUD 1945 Bab XIV Pasal 33 ayat 3 sangat dia hafal. ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jadi, aturannya sangat jelas dan Karebosi itu milik negara,”paparnya. Dia memaparkan, jumlah dana yang digelontorkan sebesar Rp118 miliar itu untuk membuktikan kalau kampung halamannya (Makassar) bisa sekelas Singapura.

”Jangan dituduh yang bukan-bukan. Total keuntungan saya tak seberapa dibandingkan kalau saya mendepositokan uang. Kalau saya deposito, bisa Rp11 miliar per tahun. Kalau selama 30 tahun selama kontrak kerja sama, saya deposito bisa Rp300 miliar,”ungkapnya. Selain itu, pengawasan dan pemeliharaan Lapangan Karebosi yang dipercayakan kepadanya oleh Pemkot Makassar juga merogoh dana Rp2 juta per bulan. ”Tak ada keuntungan yang kami dapatkan dari ongkos pemeliharaan itu.Saya hanya mau Karebosi tetap bersih,” ujarnya.

Yang menjadi ironi baginya adalah hak pengelolaan lahan (HPL) yang kini tak kunjung terbit. Sesuai kesepakatan, Pemkot Makassar bertanggung jawab atas dokumen tersebut. Hal ini sudah pernah dipertanyakan ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Badan Pertanahan Negara (BPN). Sayang,tak berhasil. ”Pemkot harus selesaikan. Itu sangat penting bagi penyewa kios untuk bisa dijadikan jaminan kepada bank untuk modal kerja,” tandasnya.

Sebelumnya,Pemkot Makassar berjanji akan mengusahakan penerbitan HPL tersebut dengan mengajak DPRD Makassar memperjuangkan penerbitan dokumen tersebut. Kandasnya dokumen itu terkait polemik Karebosi yang masih bergulir pada proses hukum.

2 komentar:

Admin said...

GRATIS Panduan Bisnis Hosting Cocok Buat Anda Yang Pemula Di Bisnis Internet Di Sajikan Secara apik dan Mudah Di Pahami Karna Dilengkapi dengan Gambar Plus GRATIS Minisite Profesional Mesin Penghasil Uang Tanpa Batas... Selamat Mencoba..SALAM SUKSES....!!!!

Admin said...

GRATIS Panduan Bisnis Hosting Cocok Buat Anda Yang Pemula Di Bisnis Internet Di Sajikan Secara apik dan Mudah Di Pahami Karna Dilengkapi dengan Gambar Plus GRATIS Minisite Profesional Mesin Penghasil Uang Tanpa Batas... Selamat Mencoba
Site : http://kayadaribisnishosting.co.cc

 
© Copyright 2010-2011 I'Mpossible All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.